You don't have javascript enabled. Good luck with that.
Pencarian
Kebakaran ancol anita
photo Anita Karyati - Beritajakarta.id

Penanganan Kebakaran Diminta Perkuat Sisi Pencegahan

Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu meminta penanganan kebakaran di Jakarta tidak hanya mengandalkan kecepatan pemadaman, tetapi juga diperkuat melalui langkah pencegahan berbasis risiko.

"Petugas damkar kita sudah bekerja keras,"

Hal itu disampaikannya menyusul kebakaran yang menghanguskan 20 rumah semipermanen di Kampung Muka, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Minggu (27/9). Kebakaran di area sekitar 1.800 meter persegi tersebut berdampak terhadap 110 kepala keluarga (KK) atau sekitar 380 jiwa.

Kevin mengapresiasi respons cepat Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta yang mengerahkan 19 unit mobil pemadam dan 95 personel sehingga api tidak meluas. Berdasarkan keterangan awal petugas dan saksi, kebakaran diduga dipicu korsleting listrik dari salah satu rumah kontrakan.

Bantuan Penyintas Kebakaran Kampung Muka Ancol Sudah Didistribusikan

"Petugas damkar kita sudah bekerja keras ketika api menyala. Tantangan pemerintah sekarang adalah bagaimana hadir sebelum api itu muncul. Setiap kebakaran besar harus menghasilkan perbaikan sistem," ujar Kevin, Selasa (29/9).

Kevin juga menyoroti data Gulkarmat DKI yang mencatat 1.216 kejadian kebakaran sepanjang 1 Januari hingga 31 Agustus 2026. Sebanyak 649 kejadian atau 53,37 persen diduga berkaitan dengan masalah kelistrikan. Bangunan perumahan menjadi objek yang paling banyak terbakar dengan 358 kejadian, sedangkan Jakarta Barat mencatat kasus terbanyak dengan 368 kejadian atau sekitar 30,26 persen.

Untuk itu, Kevin mendorong Pemprov DKI bersama Gulkarmat, perangkat wilayah, PLN, dan instansi terkait menyusun Jakarta Fire Risk Map hingga tingkat RW. Pemetaan tersebut dapat mencakup riwayat kebakaran, kepadatan bangunan, kondisi instalasi listrik, akses kendaraan pemadam, ketersediaan sumber air atau hidran, serta kondisi lingkungan.

Dari pemetaan itu, ia mengusulkan 50 RW dengan risiko kebakaran tertinggi mendapat intervensi pencegahan lebih intensif, seperti pemeriksaan instalasi listrik dan kapasitas MCB, pengecekan akses kendaraan pemadam, penyediaan APAR, serta jalur evakuasi.

"Pencegahan bukan mencari siapa yang bisa disalahkan. Pencegahan adalah menemukan titik risiko sebelum risiko itu berubah menjadi bencana," terangnya.

Kevin juga meminta keberhasilan penanggulangan kebakaran tidak hanya diukur dari kecepatan petugas tiba di lokasi, tetapi juga dari kemampuan menekan kejadian di wilayah berisiko tinggi.

Menurutnya, upaya tersebut perlu didukung kolaborasi pemerintah dan masyarakat melalui edukasi instalasi listrik aman, penggunaan APAR, jalur evakuasi, serta pelaporan dini hingga tingkat RT/RW.

"Kita tentu berharap tidak ada kebakaran berikutnya. Tetapi harapan saja tidak cukup. Pemerintah harus menggunakan data untuk mengetahui di mana risiko terbesar berada, siapa yang harus bergerak, dan apa yang harus diperbaiki sebelum api muncul," tandasnya.

Berita Terkait
Berita Terpopuler indeks
  1. Jakarta Esports 2026 Hadirkan Panggung Game Lokal, Musik, dan Kreativitas

    access_time19-10-2026 remove_red_eye3154 personAldi Geri Lumban Tobing
  2. Personel Gabungan Kembalikan Fungsi Trotoar dan Saluran di Jalan Sungai Bambu

    access_time21-10-2026 remove_red_eye2520 personAnita Karyati
  3. Warga Kelurahan Pulau Panggang Diajak Gencarkan Pilah Sampah

    access_time20-10-2026 remove_red_eye1285 personAnita Karyati
  4. Antisipasi Cuaca Panas, Pemprov DKI Siapkan OMC Jelang JRF dan Konser Kanye West

    access_time21-10-2026 remove_red_eye1197 personDessy Suciati
  5. Makin Diminati, Transportasi Jakarta Tembus Peringkat 15 Besar Dunia

    access_time19-10-2026 remove_red_eye1144 personDessy Suciati